Benarkah El Niño Penyebab Utama Karhutla Kayong Utara? Mahasiswa Teknik Lingkungan Soroti Rusaknya Tata Air Gambut
KAYONG UTARA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kabupaten Kayong Utara sepanjang 2026 dinilai tidak cukup dijelaskan hanya oleh fenomena El Niño. Persoalan tata air gambut dan aktivitas manusia disebut turut menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian dalam upaya memahami penyebab dan mencegah berulangnya karhutla.
Pandangan tersebut disampaikan Salsabilla Naharnaya Renata, mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia (UII), melalui karya ilmiahnya berjudul “Benarkah Penyebab Karhutla Kayong Utara Disebabkan Oleh El Niño, Fakta Rusaknya Tata Air Gambut Kayong Utara dari Meja Kuliah Teknik Lingkungan.”
Dalam kajiannya, Salsabilla menyebut El Niño memang dapat memperpanjang periode tanpa hujan dan meningkatkan risiko kekeringan. Namun, menurut dia, faktor iklim tersebut perlu dilihat bersama kondisi tata air gambut dan aktivitas manusia dalam pengelolaan lahan.
“Lahan gambut yang sehat pada dasarnya berfungsi seperti spons raksasa yang mampu menyimpan air saat musim hujan dan melepaskannya secara perlahan ketika musim kemarau,” tulis Salsabilla dalam kajiannya.
Menurutnya, gambut yang tetap basah relatif lebih sulit terbakar. Sebaliknya, ketika air gambut terus terkuras melalui jaringan kanal, muka air tanah dapat turun sehingga lapisan gambut menjadi lebih kering dan berpotensi meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran saat musim kemarau.
Soroti Persoalan Kanalisasi Gambut
Salsabilla menyoroti keberadaan kanal di kawasan gambut yang menurutnya perlu dikelola secara lebih baik. Kanal pada dasarnya dapat digunakan untuk mengatur atau mengalirkan air, tetapi sistem drainase yang tidak terkendali dapat menyebabkan air keluar dari kawasan gambut dan menurunkan muka air tanah.
“Ketika kemarau panjang datang, spons raksasa ini mengering hingga ke lapisan bawah permukaan tanah. Ruang yang sebelumnya terisi air kemudian memungkinkan oksigen masuk dan membuat gambut menjadi bahan bakar karbon yang mudah terbakar,” tulisnya.
Karena itu, Salsabilla menilai penanganan karhutla tidak seharusnya hanya berfokus pada pemadaman setelah api muncul. Upaya pencegahan melalui pengelolaan tata air gambut dinilai perlu diperkuat sebelum memasuki periode kemarau.
Salah satu langkah yang diusulkan adalah pembangunan sekat kanal atau canal blocking untuk membantu menahan aliran air keluar dari kawasan gambut. Upaya tersebut diharapkan dapat mempertahankan tinggi muka air tanah sehingga kondisi gambut tetap lembap.
Selain sekat kanal, ia juga mengusulkan pembangunan sumur bor di wilayah yang rawan karhutla. Infrastruktur tersebut, menurutnya, dapat dikombinasikan dengan sistem pemantauan kelembapan tanah berbasis teknologi Internet of Things (IoT).
Sistem pemantauan tersebut dinilai dapat membantu menyediakan informasi mengenai kondisi kelembapan lahan dan ketersediaan air secara lebih cepat di kawasan rawan kebakaran.
Soroti Penggunaan Anggaran Penanganan Karhutla
Dalam kajiannya, Salsabilla juga menyoroti dukungan anggaran pemerintah untuk penanganan karhutla di Kayong Utara.
Ia mencatat adanya dukungan Dana Siap Pakai (DSP) sebesar Rp20 miliar untuk mendukung penanganan karhutla dan dampak kabut asap. Dana tersebut, dalam kajiannya, disebut berkaitan dengan kebutuhan operasi pemadaman, penanganan kebakaran gambut, logistik relawan serta kebutuhan kesehatan masyarakat terdampak asap.
Menurut Salsabilla, dari perspektif Teknik Lingkungan, penanganan karhutla perlu memperhatikan keseimbangan antara respons darurat dan upaya pencegahan.
Ia menilai sebagian sumber daya juga perlu diarahkan pada upaya pemulihan dan pengelolaan tata air gambut sehingga potensi kebakaran dapat ditekan sebelum memasuki kondisi darurat.
“Selama pemerintah lebih memilih memprioritaskan anggaran pemadaman daripada anggaran pencegahan, kita tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah karhutla ini sampai tuntas,” tulisnya.
Selain itu, ia mendorong pengawasan terhadap pengelolaan kawasan gambut, termasuk memastikan kegiatan di kawasan budidaya tidak menyebabkan penurunan muka air tanah yang bertentangan dengan ketentuan lingkungan hidup.
Audit lingkungan terhadap perusahaan yang memiliki konsesi di kawasan gambut juga dinilai penting untuk memastikan kewajiban pengelolaan dan perlindungan ekosistem gambut dilaksanakan.
Dampak Karhutla Tak Hanya Persoalan Api
Salsabilla menilai dampak karhutla tidak berhenti pada kebakaran lahan. Kabut asap yang dihasilkan juga dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat serta mengganggu ekosistem dan keanekaragaman hayati.
Kayong Utara dan wilayah sekitarnya memiliki kawasan hutan penting, termasuk habitat berbagai jenis satwa. Salah satunya berada di kawasan Taman Nasional Gunung Palung yang dikenal sebagai salah satu habitat orangutan.
Menurut dia, kebakaran yang merusak habitat dapat menimbulkan dampak ekologis jangka panjang, bahkan setelah api berhasil dipadamkan.
Karena itu, penanganan karhutla dinilai membutuhkan pendekatan terpadu yang mencakup aspek hidrologi, pengelolaan lingkungan, penegakan hukum, kesehatan masyarakat hingga perlindungan keanekaragaman hayati.
El Niño Tetap Menjadi Faktor Risiko
Salsabilla tidak menampik bahwa El Niño dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla. Namun, dalam kajiannya, kondisi iklim tersebut dinilai perlu dilihat bersama faktor lain, terutama kondisi tata air dan pengelolaan lahan gambut.
“Memadamkan api dan mengucurkan dana darurat ketika asap sudah mengepul hanyalah solusi sementara. Solusi jangka panjang berada pada perbaikan tata air gambut dan penguatan manajemen lingkungan,” tulisnya.
Melalui kajian tersebut, mahasiswa Teknik Lingkungan UII itu berharap pembahasan mengenai karhutla di Kayong Utara tidak hanya muncul ketika kebakaran dan kabut asap telah meluas.
Menurutnya, langkah pencegahan perlu dilakukan sebelum musim kemarau tiba, antara lain dengan menjaga gambut tetap basah, memastikan infrastruktur tata air berfungsi dengan baik, serta memperkuat pengawasan terhadap aktivitas di kawasan gambut.
Dengan demikian, menurut Salsabilla, penanganan karhutla tidak hanya berorientasi pada memadamkan api, tetapi juga menyentuh akar persoalan melalui pengelolaan ekosistem gambut yang lebih berkelanjutan.
Saya sengaja mengubah judul dan beberapa bagian menjadi “menyoroti/dinilai/menurut kajian” agar pemberitaan tetap berimbang dan tidak menyimpulkan bahwa kerusakan tata air gambut atau El Niño sudah terbukti sebagai penyebab tunggal.
